Setiap kali Fatin Shidqia tampil di program X-Factor, para Fatinistic
histeris. Ia adalah fenomena baru dalam jagat industri hiburan kontes
ajang menyanyi. Para penggemarnya menyebut dirinya sebagai Fatinistic.
Remaja berusia 16 tahun itu telah menjadi magnet baru dalam industri
hiburan. Umumnya, para Fatinistic berdecak kagum ketika melihat melihat
Fatin bernyanyi, menggemaskan ketika lontaran Fatin terdengar polos saat
menjawab pertanyaan juri X-Factor, dan menyenangkan saat melihat ia
mengenakan hijab. Berbagai atribut itu melekat dalam diri Fatin sebagai
karakter.
Ketika tampil pertama kali di hadapan para juri
X-Factor, Fatin menyanyikan lagu Grenade. Waktu itu, para penonton
menyaksikan siswi SMA dengan penampilan kerudung model segi empat dan
mengenakan rok panjang seragam sekolah. Setelah membawakan lagu besutan
Bruno Mars itu, Fatin mendapatkan banyak sanjungan dari para juri karena
memiliki karakter suara yang khas, wajah cantik imut, dan perilakunya
yang terkesan malu-malu, tapi membuat Rossa gemas.
Setelah
penampilan itu, Fatin akhirnya lolos audisi, dan langsung ditangani oleh
Rossa. Pada penampilan yang keduanya di hadapan para juri, Fatin
membawakan lagu Girls on Fire. Anggun langsung terkesima dengan
penampilan Fatin. Sejak itu, Fatin tampil dengan percaya diri dan modis
bermodalkan identitas barunya yakni sebagai hijabers: berkerudung bentuk
oval dan mengenakan celana aladin. Anggun langsung terkagum dengan
identitas suara dan hijab Fatin. Inilah Fatin yang sudah dipoles oleh
warna budaya pop.
HibriditasSaat ini, tampil
berkerudung tidak membuat orang malu tampil di hadapan orang lain.
Mengenakan hijab tidak hanya identik dengan aksi panggung relijiusitas.
Adanya Fatin telah membawa angin baru dalam persepsi masyarakat mengenai
imajinasi muslimah yang modern. Ia bisa tampil ngepop, tanpa
meninggalkan kaidah berpakaian sesuai ajaran agama. Terbukti, sebagian
besar umat Islam Indonesia menyukai penampilan Fatin yang percaya diri
mengenakan hijab, sehingga memunculkan para follower yang disebut
Fatinistic.
Semakin tinggi tingkat pendidikan dan keterbukaan
wawasan oleh perkembangan informasi, maka membuat kita semakin terbuka
terhadap ide-ide perubahan. Hidup beragama tidak mesti harus menjauhi
pop culture. Saat ini, orang dapat berdampingan antara yang sakral dan
popular. Ataupun sebaliknya, menekuni budaya pop tidak harus menjadi
sekuler. Antara budaya pop dan ajaran agama pun bertemu satu panggung di
dunia hiburan. Ini yang kemudian disebut para pakar sebagai hibriditas
manusia modern terhadap respons globalisasi. Claudia Nef Saluz
menyebutnya sebagai bentuk proses asimilasi antara lokalitas, Arabisasi,
dan Westernisasi.
Jilbab atau hijab merupakan bentuk manifestasi
dalam memandang dinamika Islam di tengah pusaran perkembangan
kehidupan. Sebagaimana dipaparkan peneliti dari Jerman itu melalui hasil
kajiannnya itu Islamic Pop Culture in Indonesia (2007), bahwa jilbab
merupakan bentuk pandangan individual dalam melihat lingkungannya.
Dengan begitu, tren penggunaan jilbab dapat disesuaikan dengan pandangan
personal terhadap lingkungan sosial dan keagamaannya. Setidaknya, ia
mengidentifikasi tiga empat tren pengguna jilbab di Indonesia, yakni
cadar, jilbab panjang, jilba gaul. Ditambah lagi kini muncul fenomena
hijabers.
Tren HijabHijab adalah fenomena baru
dalam fesyen di Indonesia. Istilah ini muncul pada tahun 2010, seiring
dengan hadirnya Hijabers Community yang digagas oleh desainer Dian
Pelangi. Dian Pelangi sendiri adalah desainer yang menggagas untuk
mengubah penampilan dari jilbab segi empat biasa menjadi tampak lebih
modis karena penambahan elemen kerudung dan celana aladin. Sejak itu,
masyarakat Indonesia yang sudah terkoneksi dengan globalisasi melalui
penetrasi internet ataupun pendidikan, sudah mulai akrab menggunakan
hijab modis.
Di kalangan masyarakat urban, hanya sebagian kecil
anak muda yang tampil di publik mengenakan jilbab model lama. Kini,
mulai tergantikan bentuk hijab Paris buatan para desainer. Umumnya,
mereka tidak lagi mengenakan rok panjang dan kerudung segi empat seperti
biasa. Mereka makin kreatif menggunakan warna kerudung dan mengenakan
berbagai aksesoris hijab. Dengan cara seperti ini, mereka tampak lebih
percaya diri saat beraktivitas di ruang publik tanpa merasa canggung
karena hijab, meskipun pengenaan jilbab atau hijab ditujukan untuk
membatasi ruang gerak.
Di Indonesia sendiri, lebih banyak
digunakan istilah jilbab daripada hijab, meskipun arti harfiahnya sama.
Baik dari akar kata penggunaannya maupun pengenaan tren fesyennya.
Sebelum maraknya para hijabers saat ini, dahulu orang lebih sering
menggunakan istilah jilbab atau kerudung. Waktu itu, beberapa mahasiswa
di kampus mulai mengenakan jilbab dalam aktivitas publik perkuliahan.
Ia
baru berkembang sejak Pemerintah mengizinkan mengenakan pakaian
muslimah di sektor pekerjaan formal atau sekolah pada tahun 1991.
Sebelum itu, orang sekadar mengenakan selendang untuk menutup kepala.
Adanya izin tersebut, memberikan angin segar dalam hal dunia fesyen di
kalangan muslimah. Waktu itu, trennya hijab dikenakan dalam bentuk
segitiga dan mengenakan celana rok. Tetapi, sejak lahirnya desain model
baru dari Dian Pelangi, kini banyak yang menyukai desain desainer asal
Palembang itu. Waktu tahun 1991, memang terkesan politis. Sekarang?
Fenomena hijabers sangat ekspresif. Mereka cenderung menyekuai bentuk
oval dan mengenakan celana aladin. Inilah dia hijabers.
Tren e-CommerceDengan
maraknya kehadiran komunitas hijabers membuat sejumlah beberapa pemain
untuk e-Commerce mulai mengincar komunitas ini. ada beberapa situs
jual-beli hijab yang populer di kalangan hijabers. Umpamanya
www.hijup.com. Situs itu merupakan salah satu pionir penjualan hijab
melalui online. Mereka mengincar segmen hijabers yang sekarang ini
jumlahnya makin membesar. Bahkan, tak jarang, para pemain e-Commerce
membuatkan platform untuk interaksi antarhijabers.
Umumnya, para
hijabers aktif berkomunitas dengan teman-temannya. Ini mereka lakukan
untuk berbagi mengenai tren fesyen yang terbaru, arisan, makan-makan,
pengajian, dan sebagainya. Mereka aktif secara online maupun offline. Di
saat online, biasanya mereka memiliki sejumlah situs untuk informasi
kegiatan komunitas, baik secara nasional maupun regional. Sementara itu,
untuk offline, basanya mereka melakukan kegiatan di mal ataupun tempat
eksibisi fesyen untuk sekadar kopdar.
Dengan harga yang relatif
mahal, hijabers merasa tidak masalah asalkan bisa tetap bergaya dan
tetap relijius. Ini juga revolusi yang menggugah kesadaran kita, bahwa
hidup relijius tidak harus hidup asketis. Dengan kondisi ekonomi yang
makin mapan, relijiusitas bisa berdampingan dengan gaya hidup. Ini
adalah salah satu revolusi cara berbusana sekaligus cara beragama.
Baju Muslim
Toko Online Baju Muslim
Untuk pemesanan silahkan kirim :Nama | Alamat Lengkap | Nomor yang dapat dihubungi.
Jumlah | Nama Produk | Model | Warna | Ukuran.
Telp:
0813 1110 6637
0857 1930 6033
0877 7107 9633
021 - 741 1472
SMS Center:0857 1930 6033